Jakarta – Bank Indonesia menerbitkan instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) serta juga Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) untuk menarik masuknya modal asing ke pasar keuangan domestik pada tengah risiko global yang dimaksud yang meningkat.
“Penerbitan Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) kemudian Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) sebagai instrumen moneter yang dimaksud dimaksud pro-market untuk pendalaman pasar uang kemudian mengupayakan upaya menarik portfolio inflows (modal asing portofolio),” kata Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo saat menyampaikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI di tempat tempat Jakarta, Kamis.
Instrumen baru tersebut, kata Perry, akan menggunakan aset surat berharga dalam valuta asing yang dimaksud dimaksud dimiliki BI sebagai underlying. SVBI lalu SUVBI, akan mulai diimplementasikan pada 21 November 2023 sebagai instrumen operasi moneter valas.
SVBI akan diterbitkan pada tenor 1, 3, 6, 9, 12 bulan, sedangkan SUVBI akan diterbitkan dengan tenor 1, 3, kemudian 6 bulan dengan settlement T+2.
Bank sentral, kata Perry, juga akan melanjutkan intervensi di area tempat pasar valas pada transaksi spot, Domestik Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di tempat area pasar sekunder.
BI pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini memutuskan untuk menaikkan suku bunga acuan (BI 7-Day Reverse Repo Rate/BI7DRR) sebesar 25 basis poin menjadi 6 persen.
Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global, serta sebagai langkah antisipatif serta forward looking untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor.
BI mencatat nilai tukar rupiah terdepresiasi 1,03 persen (year to date/ytd) oleh sebab itu terus menguatnya dolar AS. Dibandingkan akhir 2022, indeks nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama (DXY) pada 18 Oktober 2023 tercatat tinggi di tempat tempat level 106,21 atau menguat 2,60 persen (ytd).
Sangat kuatnya dolar AS ini memberikan tekanan depresiasi mata uang hampir seluruh mata uang dunia, seperti yen Jepang, dolar Australia, lalu euro yang dimaksud hal itu melemah masing-masing 12,44 persen, 6,61 persen juga juga 1,40 persen (ytd), serta depresiasi mata uang kawasan, seperti ringgit Malaysia, baht Thailand, serta peso Filipina masing-masing 7,23 persen, 4,64 persen serta 1,73 persen (ytd).







Tinggalkan Balasan